KAMI BERBEDA KARENA BERKARYA

Tharsisius Pabendon
Print Friendly

PIDATO KETUA STIE JAMBATAN BULAN TIMIKA

DALAM RANGKA WISUDA SARJANA DAN DIPLOMA TIGA

TAHUN AKADEMIK 2016/2017

 

TEMA: “KAMI BERBEDA KARENA BERKARYA”

Assalamu Alloiqum Warahmatullahi Wabarakatu,

Semoga Tuhan selalu melimpahkan rahmatNya atas kita semua.

Yang saya hormati           : Koordinator KOPERTIS Wilayah XIV, Papua dan Papua Barat yang diwakili oleh Sekretaris Pelaksana Ibu Meta Gomies

Yang saya hormati           : Bapak Bupati Kabupaten Mimika.

Yang saya hormati           : Para pimpinan Forkopimda Kabupaten Mimika

Yang saya muliakan         : Para pimpinan dan tokoh agama.

Yang saya hormati           : BapakPembina dan KetuaPengurusYayasanJambatanBulanTimika.

Yang saya hormati           : Para TokohMasyarakatdi KabupatenMimika

Yang saya hormati           : Para Pimpinan LSM dan OrganisasiSosialKemasyarakatandi Kabupaten Mimika

Yang saya hormati           : Para PimpinanBUMN/D maupun perusahaan swasta

Yang saya hormati           : Rekan-rekan Staf Dosen dan Tenaga Kependidikan STIE Jambatan Bulan Timika.

Yang saya hormati           : Para orang tua dan keluarga calon wisudawan-wisudawati.

Yang saya banggakan     : Seluruh Calon Wisudawan/ti STIE Jambatan Bulan Timika, serta sekalian hadirin yang selalu memberi dukungan moril dan materil dalam rangka pengembangan pendidikan oleh STIE Jambatan Bulan Timika.

Ijinkanlah saya menyampaikan pidato dalam rangka Wisuda Sarjana dan Diploma Tiga Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Jambatan Bulan Timika Tahun Akademik 2016/2017.

Hadirin dan para calon wisudawan-wisudawati yang saya hormati,

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional BAB II pasal 3 menyatakan sebagai berikut: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Pada ranah pendidikan tinggi, UU Republik Indonesia Nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, pasal 4, menjelaskan bahwa pendidikan tinggi berfungsi:

  1. a) mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa;
  2. b) mengembangkan Sivitas Akademika yang inovatif, responsif, kreatif, terampil, berdaya saing, dan kooperatif melalui pelaksanaan Tridharma; dan
  3. c) mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dengan memperhatikan dan menerapkan nilai Humaniora.

Mendalami pasal 4 UU no 12 di atas menunjukkan keyakinan pemerintah yang kuat bahwa partisipasi masyarakat dalam pendidikan tinggi akan memberikan kontribusi yang sangat berarti pada peningkatan kecerdasan masyrakat dalam membangun kehidupannya yang selanjutnya berimplikasi pada akselerasi peningkatan kesejahteraannya. Keyakinan pemerintah ini kemudian secara nyata dilakukan melalui pembentukan Kementrian Riset, Tegnologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) yang terpisah dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaa, dengan harapan, malalui Kemenristekdikti pemeranan dan pemberdayaan  pendidikan tinggi dalam kerangka pembangunan manusia Indonesia yang berkualitas dapat lebih ditingkatkan.

Saudara-saudari yang saya hormati,

Saat ini angka partisipasi masyarakat Indonesia ke Perguruan Tinggi sebesar 18,7% yang artinya hanya 18,7% dari anak usia sekolah di perguruan tinggi yang mengenyam pendidikan tinggi. Dibandingkan dengan negara Amerika Serikat yang memiliki APK 60%, Korea Selatan 90% dan negara maju pada umumnya dengan APK di atas 40%, bangsa Indonesia memiliki PR yang sangat besar. Tingginya APK di negara maju jelas menunjukkan korelasi yang signifikan dengan kemajuan masyarakatnya pada berbagai sektor.

Pada sisi yang lain, di samping memiliki angka APK yang masih sangat rendah, kualitas proses juga menjadi masalah yang membutuhkan perjuangan yang ekstra kuat dengan konsistensi yang tinggi. Dukungan dana operasional yang sangat minim, kualitas SDM yang rendah, kualitas prasarana-sarana yang rendah, serta sistem tatakelolah yang tidak profesional berdampak pada kualitas proses pendidikan dan pembelajaran yang asal-asalan sehingga menghasilkan lulusan yang tidak memiliki kualifikasi daya saing yang memadai. Akibatnya, banyak lulusan sarjana kita yang menjadi pengangguran, tidak diterima bekerja di dunia kerja atau tidak dapat berpikir kreatif membangun lapangan kerjanya sendiri misalnya dengan berwirausaha. Dengan kondisi ini, keberadaan perguruan tinggi hanya akan menjadi fatamorgana (tidak mampu menunjukkan karya yang nyata dan menyakinkan) dalam proses pembangunan dan bahkan bisa jadi pada situasi dan tempat tertentu malah kontraproduktif dengan proses pembangunan.

Hadirin yang saya hormati,

Pada posisi di mana kita tidak mungkin meninggalkan sepenuhnya lokalitas kekhasan kita tetapi pada sisi yang lain kita tidak mungkin menghindar dari terpaan nilai-nilai arus globlisasi, arahpengembangan perguruan tinggi tidak lagi berbasis lokal-nasional tetapi perpaduan antara lokal, nasional dan internasional. Tidak membedakan, apakah PT tersebut sudah besar atau masih kecil, semuanya terpaksa kalau bukan dipaksa masuk ke gelanggang ini. Situasi ini terjadi sebagai tekanan yang begitu kuat dari perkembangan tegnologi informasi yang  begitu dahsyat yang diikuti oleh kebijakan-kebijakan nasional dan internasional yang memiliki muatan nilai dengan cakupan menyeluruh (tidak parsial) pada segala aspek (politik, sosial budaya, lingkungan hidup, teknologi, pendidikan, dan ekonomi). Perguruan tinggi yang tidak mampu menyesuaikan diri akan terlindas oleh tekanan tuntututan jaman dan paradigma.

Globalisasi yang juga berarti tanpa sekat ruang dan waktu menghadirkan pula persaingan mutu tenaga kerja yang bebas hambatan. Tenaga kerja dari negara yang satu dapat dengan mudah mengakses negara lain untuk menawarkan jasa dan keahliannya, bahkan pada bidang jasa tertentu tidak membutuhkan kehadiran secara fisik tetapi hanya melalui media telekomunikasi. Dengan demikian,jelaslah, dalam dunia seperti ini, ada 2 aspek yang harus dimiliki dan diungguli secara simultan oleh seseorang yaitu aspek hard skill dan aspek soft skill. Aspek hard skill merupakan penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan dan teknologi, dan aspek soft skill merupakan kemampuan seseorang dalam membangun relasi interpersonal dengan orang lain serta kemampuan mengelola dirinya sendiri untuk mengoptimalkan potensi dirinya.

Pada kedua aspek inilah perguruan tinggi ditantang melakukan kajian secara mendalam menentukan komponen-komponen masing-masing aspek yang akan menjadi sasaran inti pengembangannya, bagaimana metodenya, bagaimana sdm-nya, bagaimana prasarana-sarana pendukungnya, bagaimana instrumen normatifnya, serta bagaimana budaya organisasinya yang secara besama-sama membangun sinergi guna menghasilkan lulusan yang berkualitas. Landasan kajian dalam penentuan komponen-komponen pengembang dari setiap aspek inilah yang disesuaikan dengan tuntutan perkembangan dunia terkini serta kebutuhan aktual daerah setempat sehingga pasar sasaran setiap lulusan dapat terakomodir.

 Hadirin yang saya hormati,

Menyadari tantangan situasi ini, STIE Jambatan Bulan Timika melalui rapat evaluasi RIP tahun 2009/2015, manyusun arah pengembangan (road map) STIE Jambatan Bulan tahap penggembangan 2016-2021 dengan penekanan pada beberapa pandangan yang dinilai memiliki daya konstruktif menuju peningkatan peran dan daya saing lulusan STIE Jambatan Bulan Timika ke depan sebagai berikut:

  1. Segenap sivitas akademika STIE Jambatan Bulan Timika diarahkan untuk memiliki kesadaran yang sungguh akan eksisten STIE Jambatan Bulan di tengah-tengah masyarakat Kabupaten Mimika sebagai wujudrahmat yang ditugasi mengambil peran dalam usaha mengubah kondisi masyarakatdan atau sistem masyarakat menjadi masyarakat dan atau sistem masyarakat yang mampu membangun dirinya sendiri secara personal dan secara komunal.
  2. Terhadap para peserta didik, terdapat 3 aspek pengembangan hard skill yaitu:
  3. Spesifikasi keahlian yang unggul dan khas.
  4. Penguasaan bahasa asing.
  5. Penguasaan aplikasi teknologi informasi.

     dan 3 aspek pengembangan soft skill yaitu:

  1. Kemampuan bekerja sama dalam tim sebagai wujud dari kemampuan membangun komunikasi interpersonal.
  2. Keberpihakan pada apek-aspek yang mendukung keamanan, kelestarian lingkungan hidup serta dimensi kearifan lokal.
  3. Kemampuan mengikuti perkembangan informasi terkini (tidak hanya terkait bidang keahliannya tetapi juga terkait isu-isu yang memengaruhi perkembangan dunia secara umum (ilmu pengetahuan, politik, sosial-budaya, lingkungan hidup, keamanan dunia).

Untuk mendukung program pembangunan di atas, STIE Jambatan Bulan melakukan pengembangan sumberdaya dosen, sumberdaya tenaga kependidikan dan sumberdaya prasarana-sarana. Sejak tahun 2008, STIE Jambatan Bulan secara rutin dan mandiri melakukan peningkatan kualifikasi dosen melalui program  studi lanjut. Pada tahun ini, STIE Jambatan Bulan memogramkan studi lanjut dosen  sebanyak 1 orang untuk program S2 (yg sementara berlangsung) dan 2 orang untuk program S3. Target kami, pada tahun 2021, semua tenaga dosen STIE Jambatan Bulan Timika sudah berpangkat akademik minimal lektor III/c dan III/d, artinya para dosen STIE JB telah mempu melaksanakan Tri Dharma secara konsisten dan berkualitas.

Di bidang tenaga kependidikan, STIE Jambatan Bulan Timika telah melakukan program pengembangan melalui pelatihan peningkatan keterampilan kerja teknis sesuai dengan tugas pokoknya masing-masing serta secara rutin melakukan pembekalan-pembekalan yang sifatnya mental-spiritual. Dengan demikian, setiap tenaga kependidikan telah memiliki standar yang memadai untuk melaksanakan tugas-tugas pokoknya secara profesional. Terkait dengan kapasitas tenaga kependidikan tersebut, dalam rangka meningkatkan daya saing lulusan dalam penguasaan bahasa asing (khususnya Bahasa Inggris), maka ke depan, kami telah memogramkan pengembangan kemampuan Bahasa Inggris mahasiswa yang tidak hanya melalui para tenaga pelatih bahasa di Pusat Pelatihan Bahasa STIE Jambatan Bulan tetapi juga oleh para tenaga kependidikan. Target kami, pada akhir tahun 2019, semua pelayanan administrasi apapun di STIE Jambatan Bulan Timika telah menggunakan Bahasa Inggris.

Di bidang prasarana dan sarana pendidikan, pembelajaran, serta admininstrasi, STIE Jambatan Bulan Timika telahberhasil melakukan pemenuhan prasarana dan sarana pendidikan, pembelajaran serta administrasi sesuai dengan standar minimal pendidikan tinggi. Semua proses pembelajaran telah didukung oleh fasilitas tegnologi komunikasi dengan kualitas baik yang tentunya ke depan akan terus dikembangkan menuju pelayanan yang berbasis teknologi informasi penuh.

Hadirin yang saya hormati,

Di hadapan kita terpampang tema “Kami Berbeda Karena Berkarya”.  Mengapa kami mengusung tema ini pada wisuda kali ini?

Karena kami menyadari sungguh bahwa bagaimanapun juga, sasaran akhir dari semua usaha pengembangan sumberdaya manusia yang kita lakukan adalah adanya wujud karya anak bangsa.“Karya”-lah yang memberi kita nilai lebih.‘Karya”-lah yang akan menggeser posisi dan situasi kita ke tempat dan keadaan yang lebih baik. ‘Karya”-lah yang akan menjamin masa depan generasi kita selanjutnya. “Karya”-lah yang mengangkat martabat kita ke jenjang yang lebih tinggi. “Karya”-lah yang melatakkan pondasi yang kokoh pada masa kini menuju bangunan kesejahteraan di masa depan.

Maka dari itu, di hadapan para undangan, para orang tua/wali, para kerabat dan handai tolan yang hadir pada hari ini, di ruang ini, saya mengajak para wisudawan/wati sekalian untuk memegang teguh prinsip ini. Jangan takut berkarya karana kesarjanaan Anda tidak akan memiliki arti tanpa “karya”. Mulailah dengan karya yang sederhana karena karya yang sederhana akan menjalin karya sederhana lainnya, dan karya sederhana lainnya akan melahirnya karya yang agak besar, karya yang agak besar akan mendorong karya yang lebih besar, dan karya yang lebih besar akan melahirkan kaya yang luar biasa.

 Akhirnya, hadirin yang saya hormati,

Terkait dengan situasi yang sedang kita hadapi di Kabupaten Mimika sehubungan dengan ketidakpastian masalah aktivitas tambang PT.Freeport Indonesia, saya merenungkan seperti ini:

Mengapa kita begitu merasa tidak berdaya?

Mengapa kita begitu merasa ketakutan?

Mengapa kita begitu merasa terpojokkan?

Jangan-jangan selama ini kita telah lalai membangun karya dari hasil-hasil yang telah tercurah!

Jangan-jangan kita sudah terlalu terlena dan keenakan dikaryakan dengan kontrak karya !

Jangan-jangan kita lupa bahwa kita punya potensi untuk berkarya!

Ayo, Bapak/Ibu/Saudara-i/Para wisudawan-ti mari kita membangun jembatan ke bulan dengan menggunakan anak tangga karya kita, dan saya yakin kita akan terseset karena sampainya kita tidak di bulan tapi di Surga.

 “Wassalamu Alloiqum Warahmatullahi Wabarakatu, Salam Sejahtera Bagi Kita Semua”

Komentar

comments